Banyak seruan dari para pendidik agar siswa SMP dan SMA  yang baru lulus tidak mencorat-coret bajunya dan lebih baik disumbangkan. Menurut saya biarkan saja toh cuma satu. Rata-rata siswa SMP dan SMA mempunyai 3 atau 4 setel pakaian. Jadi, kalau yang dicorat-coret satu setel berarti dia masih memiliki 3 setel lainnya yang bisa disumbangkan. Kalau semua dilarang anak remaja akan kebingungan dan bisa jadi salah jalan. Anggaplah 1 baju bekas sekolahnya menjadi cost menumpahkan kepuasan dan akan menjadi kenangan yang indah buat mereka.

Kelulusan adalah puncak aktivitas anak-anak di sekolah. Untuk bisa lulus sejumlah siswa privat saya mengaku harus kerja keras dan tidak sedikit yang merasa tertekan. Selain tenaga dan pikiran, biaya materi untuk lulus juga mahal karena rata-rata siswa SMA kelas XII ikut BIMBEL. Di Ibukota BIMBEL yang paling laris umumnya bukan yang harganya murah. BIMBEL dengan biaya 7 juta  hingga  belasan juta per tahun bisa ditemukan dengan jarak yang saling berdekatan dan punya banyak murid. Dan orang tua, terutama yang mampu, entah terpaksa atau suka rela kemudian mengirimkan anaknya ke sana supaya UN bisa dilewati anaknya dengan baik.

Jadi, tegakah kita melarang mereka mengorbankan satu setel pakaian, bukan untuk dibuang tapi diukir dengan tanda tangan orang-orang yang selama 3 tahun bersama. Bukankah setiap acara perlu ada biaya dokumentasi dan umumnya jauh lebih mahal ketimbang satu setel pakaian bekas yang  kalo dijual di Pasar Senen paling laku 5000,- rupiah?

Tulisan ini bukan untuk mengkampanyekan aksi corat-coret baju saat lulusan, karena ada juga di antara mereka yang tidak mau melakukan itu dan mereka pun perlu dihargai haknya. Bukan juga maksud saya untuk mendukung semua aksi remaja dalam meledakan kepuasannya saat lulus ujian. Kita tentu tidak bisa toleran untuk aksi-aksi lainnya seperti kompoi, ugal-ugalan dan tawuran di jalan, pesta berlebihan, dan lain-lain.

Saudaraku, tulisan ini mungkin kontroversial dan berbeda dengan pandangan kebanyakan orang. Mendiknas (MN) bahkan menyebut corat-coret baju tidak pantas dilakuan oleh siswa yang memiliki moral dan etika. Betulkah? Hmmmm… menurut saya gak seburuk itu tuh…

Anda boleh tidak setuju dengan saya & feel free to argue. Bisa jadi, saya akan terpengaruh oleh pendapat anda dan berubah pandangan saya tentang hal ini.

 

Salam Sukses

Mubarok, M.Si

 

NB: Jika anda suka artikel ini, silakan Share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini! Terimakasih.